Sudah sepantasnya kita selalu menjaga sholat yang merupakan tali
penghubung seorang hamba dengan Tuhan-Nya.
Semakin khusyu’ dan ikhlas dalam menunaikan sholat maka semakin kuatlah
hubungan hamba dengan Tuhan-Nya. Dan amalan-amalan wajib dimana seseorang hamba
mendekatkan diri kepada yang menciptakannya. Itulah yang paling dicintai oleh
Allah.
Terlebih lagi seseorang hamba menambahkannya dengan amalan-amalan
sunnah seperti sholat sunnah rowatib (Qobliyah-Bakdiyah) maka Allah pun akan
mencintai kepada hambanya yang selalu taat kepadanya. Dan ketika itulah Allah
akan bersama dengan hamba-Nya dengan pertolongan-Nya dan penjagaan-Nya. Dan
diantara yang Allah wajibkan tersebut adalah SHOLAT.
Dan betapa Allah sangat murka kepada mereka yang enggan untuk
menunaikannya. Dari Al-Quranul Karim telah menggambarkan kepada kita tentang
keadaan penghuni neraka yakni tatkala mereka menanyakan tentang sebab mereka
berada dalam siksa api neraka. Sebagaimana firman Allah yang artinya :
“Tiap-tiap diri
bertanggung jawab atas apa yang diperbuatnya, kecuali golongan kanan berada
dalam surga mereka tanya menanya tentang keadaan orang-orang yang berdosa
apakah yang memasukkan kamu kedalam Saqor? Mereka menjawab kami dahulu tidak
termasuk orang-orang yang mengerjakan sholat dan kami tidak memberikan makan
orang miskin dan adalah kami yang membicarakan barang yang batil dengan
orang-orang yang membicarakannya. Dan adalah kami yang mendustakan hari
pembalasan hingga datang kepada kami kematian. Maka tidak berguna lagi bagi
mereka syafaat dari orang-orang yagn memberi syafaat.” (Surat Al-Muddatsir
: 38 – 48)
Maka sholat adalah amalan yang
dikufuri pertama kali oleh para pendusta tersebut dan merupakan awal kali yang
mereka sesali di hari kiamat. Atas tindakan mereka yang menyia-nyiakan kala di
dunia. Nabi bersabda : “Amalan yang pertama kali dihisap dari seseorang
hamba pada hari kiamat nanti adalah sholat. Bila sholatnya baik maka seluruh
amal-amalnya dianggap baik. Namun bila sholatnya rusak maka rusaklah amalan
yang diperbuatnya.” [HR. THABRANI]
Dan karena sholat itu mempunyai
keutamaan yang agung setelah dua kalimat syahadat maka itu pulalah yang menjadi
wasiat terakhir beliau Rasulullah ﷺ
. Wasiat terakhir adalah : “(Jagalah) sholat, sholat dan juga budak yang
ada didalam genggaman kalian. Mengulang-ulangi dalam dadanya dan tidak bisa
lagi mengucapkannya dengan jelas.” [HR. AHMAD]
Dan merupakan janji yang
diucapkan oleh Rasul bahwa bila seseorang menjaganya dan tidak menyia-nyiakannya
maka Allah akan memasukkannya ke dalam surga selama-lamanya. “Lima sholat
yang diwajibkan Allah atas para hamba-hamba-Nya. Barangsiapa melakukannya dan
tidak menyia-nyiakannya sedikitpun karena meremehkan hal sholat tersebut maka
janji dari sisi Allah dia akan memasukkannya ke dalam surga.” [HR. BUKHORI]
Dan sholat juga merupakan
sesuatu dari agama ini yang paling terakhir hilang dari agama ini. Bila sholat
telah hilang maka hilanglah agama ini secara keseluruhan. Ini seperti yang
diriwayatkan oleh Abu Umamah secara marfu kepada nabi, “Buhul Islam akan
terurai helai demi helai setiap kali satu buhul terlepas. Orang-orang berpegang
erat dengan buhul setelahnya. Yang paling mula-mula terlepas adalah hukum
peradilan. Yang paling akhir adalah sholat.”
Karena itulah sudah sepantasnya
bagi seorang muslim untuk antusias dalam melaksanakan sholat fadhunya. Juga
agar tidak bermalas-malasan atau lengah darinya. Al-Quran pun telah hillang
dari orang-orang yang lalai dan lengah. Sampai-sampai waktu pun telah hilang
sia-sia dan sholat pun terlewatkan darinya.
“Maka
celakalah bagi orang-orang yang sholat yaitu orang-orang yang lali sholat.”
[QS. Al-Ma’un : 4 -5]
Allahpun mengancam untuk
orang-orang yang menyia-nyiakan sholat. Allah berfirman :
“Maka
datanglah sesudah mereka, pengganti (yang jelek) yang menyia-nyiakan sholat dan
memperturutkan hawa nafsunya, maka mereka kelak akan menemui kesesatan.” [QS.
Maryam : 59]
Setelah beberapa pemaparan ini
maka tidak seyogyanya bagi seorang muslim yang bertauhid yang takut akan
Tuhan-Nya mengharapkan pahala dari-Nya, tidak sepantasnya kalau ia
menyia-nyiakan sholatnya dalam keadaan apapun, bahkan sudah sepantasnya kalau
ia berusaha dengan sepenuh hati dan tenaganya untuk mendirikan sholat dengan
sempurna, dengan merealisasikan kekhusyu’annya dan ketundukkannya kepada Allah
Ta’ala. Dan bisa menanggalkan semua tipuan-tipuan dunia dan fitnahnya. Tidaklah
ia melakukan sesuatu gerakan perbuatan atau mengucapkan kalimat yang terkait
sholat melainkan ia menghadapkan dirinya kepada Allah dengan sepenuh pikiran,
sepenuh jiwa, dan sepenuh raga. Ketika itu maka bergembiralah karena baginya
keberuntungan. Allah berfirman : “Sesungguhnya beruntunglah orang-orang
yang beriman (yaitu) orang-orang yang khusyu’ dalam sholatnya.” [QS. Al-Mu’minun]
Sumber : Catatan
ini saya dapatkan saat mengikuti Pengajian Ahad Pagi yang disampaikan oleh HM.
Muslim.
Semoga
bermanfaat yaa J
Tidak ada komentar:
Posting Komentar